Sunday, September 15, 2013

Ringkasan Mata Kuliah Produksi Media Modul 3 - S1 Perpus Universitas Terbuka 2013



RINGKASAN MODUL 3
Tandiyo Pradekso, M. Bayu Widagdo, Melani Hapsari (2013) 
Buku Materi Pokok Produksi Media 
Jakarta: Universitas Terbuka.
Modul 3.

Kompetensi Khusus:
Mahasiswa dapat menjelaskan: prinsip dan proses layout, elemen layout, penerapan layout dalam media grafis.
Tata letak (layout) dipahami sebagai tata letak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep/pesan yang dibawanya, dan merupakan salahsatu proses/tahapan kerja desain.

Kegiatan Belajar 1: Prinsip dan Proses Layout
A.  Prinsip Layout
1.    Sequence/Urutan, juga disebut hirarki/flow/aliran, desainer membuat prioritas dan mengurutkan dari yang harus dibaca pertama kali sampai ke yang dibaca belakangan. Dengan demikian pembaca dapat menangkap pesan secara berurutan.
2.    Emphasis/Penekanan, untuk menggiring perhatian pembaca agar mencerna informasi secara runtut. Penekanan dapat diciptakan melalui: pembedaan ukuran huruf, huruf yang berbeda, warna yang kontras, menentukan letak/posisi yang strategis dan menarik perhatian, mencari bentuk atau style yang berbeda dengan sekitarnya.
3.    Balance/Keseimbangan, merupakan pembagian berat yang merata pada suatu bidang layout. Merata bukan berarti dipenuhi semua, tetapi menghasilkan kesan seimbang.
4.    Unity/Kesatuan, dengan prinsip kesatuan (saling berkaitan) antara elemen-elemen desain. 

B.  Proses Layout
1.     Membuat Konsep, perlu belajar dengan menggunakan pensil dan kertas. Pertanyaan mendasar: apa tujuan mendesain?, audience?, apa pesannya?, bagaimana pesan disampaikan?, di mana?,  media apa?, kapan bisa dilihat?
2.     Memilih Media dan Spesifikasinya, hal ini erat hubungannya antara pengamat, jenis dan cara membaca media, jarak media dan durasi membaca, sehingga dalam pemilihan mempertimbangkan: media yang cocok, bahan, ukuran, posisi, kapan. Langkah berikutnya membuat sketsa.
3.     Membuat Thumbnails dan Dummy, merupakan perencanaan pengorganisasian layout sehingga menjadi sketsa yang dituangkan dalam bentuk mini. Thumbnails berguna untuk menentukan urutan dan pengaturan halaman. Setelah thumbnails kemudian dibuat dummy atau mock up, yang merupakan contoh desain (sampel).
4.     Merancang Desain Menggunakan Desktop Publishing, merupakan proses eksekusi (desain secara keseluruhan) dengan menggunakan media software komputer, namun  perlu mengecek ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan desain, meng-convert warna, mengumpulkan font yang akan dipakai oleh percetakan, memberi penanda bagian yang akan dipotong/dilipat pada akhir produksi.
5.     Menentukan Teknik Percetakan: offset, flexografi/cetak tinggi, rorogravure, sablon/cetak saring/screen printing, digital.

Kegiatan Belajar 2: Element Layout

A.  Elemen Teks
1.     Judul/Head/Heading/Headline: beberapa kata singkat yang mengawali artikel, ukuran lebih besar. 
2.     Deck/Blurb/Standfirst: gambaran singkat tentang topik yang dibahas dalam bodytext, terletak biasanya antara judul dan bodytext dan berfungsi sebagai pengantar untuk masuk ke bodytext.
3.     Byline/Credit Line/Writer’s Credit: berisi nama penulis, jabatan dan letaknya sebelum bodytext, dapat juga di akhir naskah.
4.     Bodytext/Bodycopy/Copy/Copytext: isi/naskah/artikel.
5.     Subjudul/Subhead/Crosshead: berfungsi sebagai judul segmen-segmen dalam artikel yang panjang.
6.     Pull Quotes/Lifeouts: satu kalimat atau lebih yang mengandung informasi yang penting yang akan ditekankan. Kalimat ini bisa diambil dari bodytext, dan biasanya menggunakan tanda buka tutup petik (“).
7.     Caption: merupakan keterangan singkat yang menyertai elemen visual dan inzet.
8.     Callouts: seperti caption, tetapi menyertai elemen visual yang memiliki lebih dari satu keterangan.
9.     Kickers/Eyebrows: satu atau beberapa kata  pendek yang terletak di atas judul. Bisa juga kickers ini dalam ujud warna atau gambar.
10.  Initial Caps: huruf awal yang berukuran besar dari kata pertama dalam paragraf.
11.  Indent: baris pertama paragraf menjorok ke dalam. Hanging indent: kebalikan dari indent.
12.  Lead Line: beberapa kata pertama atau seluruh kata pada awal paragraf dibedakan hurufnya.
13.  Spasi Antarparagraf: guna membedakan paragraf yang satu dengan yang lainnya.
14.  Gabungan Beberapa Cara: untuk membedakan paragraf yang satu dengan paragraf yang lain.
15.  Header & Footer: header dan footer dapat berisi running head (judul yang muncul pada setiap halaman), catatatan kaki, nomor halaman dan informasi lain.
16.  Running Head/Running Headline/Running Title/Running Feet/Runners: 
17.  Catatan Kaki/Footnote/Referense/Sumber/Resource: berisi detail informasi dari sebagian tulisan tertentu di dalam naskah.
18.  Nomor Halaman/Page Number
19.  Jumps/Jumlines/Continuation Lines: berupa teks singkat yang menunjukkan sebuah artikel merupakan sambungan dari halaman-halaman sebelumnya.
20.  Signature/Mandatory: berisi informasi identitas seseorang yang dapat dihubungi.
21.  Name Plate: nama terbitan yang ditempatkan di bagian depan terbitan dan dibuat dengan cetakan lebih besar.
22.  Mashead: area dari sebuah terbitan yang berisi informasi tentang penerbitnya (nama staf,
kontributor, cara berlangganan, alamat & logo penerbit, dll.)

B.  Elemen Visual
1.    Foto: untuk kredibilitas dalam pemberian kesan dengan foto berwarna.
2.    Artworks: karya seni atau ilustrasi agar lebih akurat dalam menggambarkan sesuatu pesan.
3.    Informational Graphics/Infographics: agar tidak membosankan, maka fakta dan data disajikan dalam bentuk grafik, tabel, diagram, bagan, peta, dll.
4.    Garis/Rules:  untuk memberikan kesan estetis, membagi suatu aren, penyeimbang berat dan pengikat kesatuan desain.
5.    Kontak/Box/Bingkai/Frame: agar elemen visual lebih tampak rapi.
6.    Inzet/Insert/Inline Graphics: elemen yang lebih  kecil dari elemen visual dan berfungsi untuk memberi informasi pendukung.
7.    Point/Bullets: untuk memberi poin-poin penjelasan suatu daftar/list.

C.  Invisible Element
Invisible elements merupakan fondasi atau kerangka yang berfungsi sebagai acuan penempatan semua elemen layout lainnya. Elemen ini dirancang lebih dulu, baru kemudian elemen teks dan visual, namun elemen ini tidak tampak dalam cetakan. Elemen ini berfungsi sebagai pembentuk unity dari seseluruhan layout.
1.   Margin: untuk menentukan jarak antara pinggir kertas dengan ruang yang akan ditempati oleh elemen-elemen layout agar estetika terjaga.

2.   Grid: merupakan kolom dengan garis-garis vertikal dan horizontal yang berfungsi untuk
1.   mempermudah dalam menentukan letak elemen layout dan mempertahankan konsistensi dan kesatuan layout.

Kegiatan Belajar 3: Penerapan Layout Dalam Media Cetak

A.  Ukuran Kertas Internasional & Produk Desain Grafis
Media dengan ukuran dan bentuk berbeda membutuhkan cara penerapan layout yang berbeda.
1.    Kartu Nama/Business Card/Name Card. Standar ukuran kertas, kecuali Amerika, Kanada dan Indonesia,  dengan ISO 216 yang terdiri dari seri A, B dan C. Ukuran kartu nama: 5,5 x 9 cm. dengan usur-unsur: logo, nama, jabatan, alamat, telepon, fax, email atau website.
2.    Kertas Surat/Kop Surat/Letterhead, umumnya berukuran 21 x 29,7 cm (A4) dengan unsur-unsur: logo, alamat, telepon, fax, email atau website.
3.    Amplop/Envelope, berukuran 11 x 23 cm dengan unsur-unsur: logo, alamat, telepon, fax, email atau website.
4.    Amplop Besar/Envelope, berukuran di atas 8,5 x 13 inchi dengan unsur-unsur: logo, alamat, telepon, fax, email atau website. Isi dalam amplop besar tidak perlu dilipat.
5.    Flier/Flyer/Handbill/Brosur Tanpa Lipatan/Selebaran, berukuran A4, A5, atau A4 dibagi 3 dan berfungsi sebagai media untuk publisitas suatu produk/service/acara/jasa kuliner.
6.    Brosur/Broschure/Leaflet, bisa berbentuk lipatan atau tidak dan berukuran lebih besar dari flier. Elemen yang ada seperti dalam flier, namun membutuhkan desain layout yang lebih beragam.
7.    Poster/Plakat/Placard, berukuran variasi: A4, A3, A2 (24 x 36 inchi), A1 atau lebih. Dalam Poster, elemen teks lebih utama.
8.    Booklet, merupakan media publikasi yang dapat menampung cukup banyak informasi, karena memiliki beberapa halaman. Booklet dapat diartikan sebagai buku kecil, ada yang menyamakan sebagai leaflet, brosur, flier.
9.    Buku, berfungsi sebagai penyampai informasi, berupa ceritera, pengetahuan, laporan, dll., dengan ukuran A6, A5, A4, A3, B6, B5. 
10. Majalah, berfungsi sebagai penyampai informasi, menjual produk, menyebarkan paham,
11. pendidikan, dll., dengan ukuran sekitar A4.
12. Surat Kabar/Koran/Tabloid, berfungsi sebagai penyaji berita-berita aktual, media periklanan, dll. Dengan ukuran lebar 13,5 atau 11,5 inchi.

B.  Tripografi Dalam Layout
1.    Memilih Jenis Huruf dan Ukurannya, jenis huruf  yang berbeda memiliki ukuran yang berbeda, sehingga ada yang menyarankan pada bagian naskah digunakan 9-12 point, di bawah 9 point untuk caption. Jika perlu dalam membuat disain harus dimulai dengan membuat dummy dengan mencetak judul, isi, caption dan elemen lain melalui printer.
2.    Menentukan Letter Spacing, World Spacing, dan Leading. Letter spacing merupakan jarak antar huruf/karakter guna meningkatkan keterbacaan. World spacing merupakan jarak antar kata. Leading merupakan jarak atar baris (yang terpenting adalah jangan sampai ekor huruf  menjulur ke bagian baris bawahnya atau sebaliknya).
3.    Tips Penerapan Ukuran Huruf, untuk leading bodytext dengan menambahkan 2 point dari huruf yang dipakai dalam dalam naskah.
4.    Lebar Paragraf. Lebar paragraf akan memberikan kenyamanan dalam membaca. Lebar paragaf akan ditentukan oleh ukuran huruf. Huruf yang kecil dapat diguunakan ukuran paragraf yang sempit, sedangkan jika memakai huruf yang besar, lebar paragraf harus ditambah (8-12 kata per baris atau 50-80 karakter per baris, ada yang memberikan saran 7-10 kata per baris, 35-45 karakter per baris.


Download e-book/PDF
 


Ringkasan Mata Kuliah Produksi Media Modul 2 - S1 Perpus Universitas Terbuka 2013





RINGKASAN MODUL 2
Tandiyo Pradekso, M. Bayu Widagdo, Melani Hapsari (2013) 
Buku Materi Pokok Produksi Media 
Jakarta: Universitas Terbuka.
Modul 2.



RINGKASAN MODUL 2
Tandiyo Pradekso, M. Bayu Widagdo, Melani Hapsari (2013) Buku Materi Pokok Produksi
Media Jakarta: Universitas Terbuka.
Modul 2.


Kompetensi Khusus:
Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi dan tujuan desain komunikasi visual, unsur dasar desain grafis, produk-produk desain grafis, pesan visual dalam desain grafis.
Dalam kehidupan, manusia tidak lepas dari produk-produk seni desain. Semua yang tampak di sekitar merupakan merupakan hasil produk desain. Dalam bidang komunikasi, khususnya aspek visualnya, berkembang pesat dan bersinergi dengan dunia desain, sehingga menghasilkan desain komunikasi visual.

Kegiatan Belajar 1: Desain Grafis dan Komunikasi Visual

A.  Desain Grafis
1.  Seni Desain dan Komunikasi Visual
Untuk menghasilkan desain grafis diperlukan perangkat lunak komputer, teori seni dan desain, serta ilmu komunikasi. Perangkat lunak merupakan sarana untuk menghasilkan seni desain. Seni desain diperlukan guna keteraturan dan keindahan ketika mendesain publikasi, sedangkan ilmu komunikasi untuk memposisikan desainer sebagai komunikator yang sedang menyusun yang akan disampaikan kepada sasaran. Oleh karena itu, desainer grafis harus memadukan skill, soul, dan touch. Dengan penggunakaan perangkat lunak komputer, penataan letak yang tepat, dan dengan konsep seni, maka pesan akan efektif diterima sasaran. Konsep desain grafis: kesederhanaan, keseimbangan, kesatuan, penekanan dan repetisi. Sedangkan elemen-elemen yang digunakan dalam desain grafis: garis, bentuk, ruang, tekstur, dan warna guna menghasilkan nilai estetis dan nilai ekstra. 

2.  Fungsi dan Tujuan Desain Komunikasi Visual
Fungsi desain komunikasi visual antara lain: mengarahkan interpretasi, memberi inspirasi, informasi dan menggerakkan untuk beraksi. Adapun tujuan desain komunikasi visual antara lain: identifikasi (mengarahkan pada pengenalan identitas), informasi (memberikan pengetahuan baru), promosi (provokasi/hasutan), persuasi ajakan,  propaganda (berhubungan dengan pencitraan), serta ambience (pengggarapan lingkungan).



3.  Unsur Dasar Desain Grafis
Garis, berfungsi sebagai pemisah elemen garis yang satu dengan yang lainnya dalam satu bidang halaman, memisahkan antara dua bagian publikasi yang dibedakan/ditekankan, dan terdiri dari: vertikal, horisontal, diagonal, kurva.
Bentuk, terjadi karena adanya batasan sebuah kontur (garis), batasan yang dibedakan oleh warna, atau adanya  arsiran.
Ruang, (white space/ruang kosong), berfungsi: sebagai jeda yang memberikan peluang bagi mata yang memandang untuk istirahat sejenak agar tidak lelah; sebagai pemisah antar kolom dalam surat kabar atau majalah; untuk memberi kesan desain yang lapang dan rapi.
Tekstur, merupakan sifat dan kualitas fisik permukaan suatu bahan: kasam, mengkilap, pudar, kusam. 
Warna,  warna yang sama akan diterima secara berbeda oleh orang lain. Warna suatu objek
ditentukan oleh cahaya yang jatuh pada objek  tersebut kemudian dipantulkan ke retina mata.
Warna objek dapat ditentukan oleh perbedaan cahaya yang jatuh. Warna digolongkan: hue (warna dasar: merah, kuning, hijau), saturation (kadar kecemerlangan warna hue), lightness (tingkat gelap-terang warna).

4.  Produk-produk Desain Grafis
Produk desain grafis (sitepu, 2009:23-24):
a.    Dokumen yang bersifat persuasif: undangan, iklan, poster, selebaran, prospektus, brosur, permohonan undangan, dll.
b.    Dokumen yang menunjukkan identitas: kartu nama, srtifikat, ijasah, dll.
c.    Dokumen yang memberikan informasi: proposal, jadwal, daftar produk, program, dll.
d.    Publikasi berkala: surat kabar, majalah, laporan penelitian, jurnal, dll.
e.    Dokumen yang menghendaki jawaban: daftar isian riwayat hidup, formulir, lembar soal, dll.
f.     Dokumen yang memberikan referensi: kalender, direktori, buku telepon, buku alamat, dll.
g.    Dokumen yang menunjukkan suatu proses: kurikulum, manual kerja, manual latihan, resep makanan, dll.



5.  Pesan Visual Dalam Desain
Agar pesan visual dapat dipahami oleh sasaran sesuai dengan kemauan komunikator, maka diperlukan tahapan-tahapan yang terstruktur. Tahapan dalam merumuskan pesan: 
    Melahirkan pesan, dengan pendekatan: berkomunikasi dengan sasaran, memperhatikan saran tim kerja, menggunakan beberapa kerangka kerja deduktif formal. Jenis pesan: rasional, moral, emosional.
    Mengevaluasi pesan: pesan dapat menimbulkan keinginan (menggerakkan keinginan maupun aksi), pesan mempunyai sifat eksklusif (mudah dipahami), mempunyai sifat dapat dipercaya (masuk akal).
    Memilih pesan, apa yang akan disampaikan.
    Menyampaikan pesan, bagaimana cara menyampaikan, gaya dan pendekatan visualisasi.

B.  Komunikasi Visual
Media komunikasi bergerak dari yang sangat tradisional ke modern dengan pemanfaatan media teknologi. Komunikasi visual merupakan penguatan dari pesan yang disampaikan melalui komunikasi lisan. 
1.    Media Komunkasi Visual, merupakan media yang membawa pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan. Media komunikasi visual merupakan media produk desain grafis. 
2.    Delapan Aspek atau Perspektif Untuk Analisis Citra Visual: etis, historis, kultural, personal, kritikal, estetik, pragmatis, dan nilai tambah.

Kegiatan Belajar 2: Prinsip-prinsip Estetika dalam Organisasi Desain Visual dan Proses Desain Komunikasi Visual

A.  Prinsip-prinsip Estetika Dalam Organisasi Desain Visual
Dalam desaian visual diperlukan kualitas estetika, karena pesan visual yang ada di dalamnya akan dimaknai, dinilai dan diinterpretasikan oleh masing-masing individul. Untuk itu diperlukan:
1.      Proporsi, guna: menciptakan harmoni, bentuk lebih menarik, meningkatkan fungsi, menciptakan kesan.
2.      Geometri dan Rasio, berguna untuk menyederhanakan hubungan visual yang kompleks.
3.      Golden Section (hubungan proporsional antara dua bagian garis/line atau dua dimensi dari figur: pendek: panjang), yang berguna untuk menciptakan keindahan dan harmoni.
 B.  Persepsi Figur dan Bentuk
Merupakan kajian berkenaan dengan aturan dan prinsip persepsi visual, kualitas figur dan bentuk, preferensi, fungsi/manfaat bentuk objek-objek visual, serta apa yang dapat dipahami dari hubungan/kombinasi antara objek visual yang satu dengan yang lain sehingga membuat pemahaman baru (Safanayong, 2006: 41).
1.  Persepsi Bentuk Dua dan Tiga Dimensional
Persepsi yang berbenda terhadap bentuk dua dan tiga demensi  yang dilakukan oleh anak dan orang dewasa. Persepsi yang berbeda ini didasarkan pada pengalaman, sehingga orang dewasapun akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Proses persepsi bersifat kompleks: memahami garis luar (contur), kemudian warna, value, dan tekstur. Setelah itu, menerima informasi visual, kemudian menggolongkan dan mengenali image, menghubungkan dengan bentuk dengan objek yang lain yang dipahami/dikenal sebelumnya. Jika objek belum dikenal, maka akan memerlukan waktu yang lama. Kemudian timbul menggambarkan objek tersebut. Identifikasi akan lebih dalam apabila digabungkan dengan pengalaman masa lalu (terhadap image yang telah dipahami). 
2.  Persepsi Bentuk Dua Dimensi
Bentuk dua demensi yang sederhana akan mudah dipersepsikan jika dibandingkan dengan bentuk dua demensi yang kompleks. Oleh karena itu, dalam desain grafis diperlukan desain yang mudah diidentifikasi, dan mudah diingat.

C.  Gestalt dan Persepsi Visual
Gestalt (bahasa Jerman: bentukÆ utuh, konfigurasi). Dalam teori Gestalt dijelaskan ada keterkaitan persepsi visual, memori, dan asosiasi pikiran dengan pengetahuan, psikologi sosial, dan psikologi seni.
Konfigurasi bentuk akan dipersepsi jika ada bentuk lain berdekatan. Persepsi bentuk dimulai yang paling sederhana, terbaik, paling tepat, objek tidak tunggal, dan menyesuaikan apa yang dipikirkan.
Komposisi seni visual: kemiripan (similarity), kedekatan (proximitry), penutupan (closure), kontinuitas (continuity), figur latar (figure ground). Sedangkan komposisi/organisasi visual: keseimbangan, keserasian, repetisi, irama, kontras, gerak, kedalaman, arah, dominasi/penekanan.



D.  Sifat Tanda
Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik dan dapat diterima oleh indera manusia yang menggambarkan atau menandakan sesuatu kepada seseorang (interpreter) dalam beberapa konteks.
Tanda yang diciptakan oleh komunikator berguna untuk menyampaikan pesan (message) dan makna (meaning) sebuah sign. Sign yang sama akan dapat dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda. Sifat tanda: primer (eksplisit, tersurat, denotatif/lugas/sebenarnya), konkrit, langsung, sekunder (implisit, tersirat, konotatif, abstrak, tidak langsung). Sign akan efektif jika bentunya lazim (common) baik bagi pengirim maupun penerima.

E.  Pengertian Makna (The Meaning of Meaning) 
“Makna” bersifat subyektif, merupakan respon internal, diperoleh untuk menstimulir sikap, ekspresi atau perilaku eksternal. Makna dalam desain grafis merupakan pemikiran/gagasan yang dipersepsikan atau sebagai reaksi untuk mempengaruhi/membangkitkan rangsangan kepada seseorang dalam bentuk tanda visual.

F.  Signal, Sign dan Symbol
Sign dibedakan: signal (sinyal yang berhubungan secara sebab-akibat: orang pintar minum…..), sign (apa yang digambarkan dan ditandakan memiliki konteks  kebudayaan yang sama: logo polo yang menggambarkan olahraga bagi kelas tinggi/bangsawan Inggris), symbol (bila yang digambarkan dan ditandakan tidak memiliki hubungan:  lingkaran hijau pada kemasan obat, sebagai tanda obat bebas).

G.  Bahasa Perlambangan (Figuratif)
Empat bentuk bahasa perlambangan sebagai pendekatan visualisasi:  simile (istilah perbandingan), metaphor (menggunakan kiasan),  allegory (merupakan mengembangan dari metaphor),  symbolisme (menggunakan simbol untuk mengekspresikan arti yang kompleks).




Download e-book/PDF
 

Ringkasan Mata Kuliah Produksi Media Modul 1 - S1 Perpus Universitas Terbuka 2013




RINGKASAN MODUL 1
Tandiyo Pradekso, M. Bayu Widagdo, Melani Hapsari (2013) 
Buku Materi Pokok Produksi Media 
Jakarta: Universitas Terbuka.
Modul 1.

Kompetensi Khusus:
Mahasiswa dapat menjelaskan: karakteristik  media audiovisual, era konvergensi dalam
media audiovisual, bahasa audiovisual, karakter penonton media audiovisual.

Kegiatan Belajar 1: Audiovisual sebagai Media Komunikasi Massa
Medium komunikasi mengalami proses cyclic (berulang), walau tidak sama. Dulu orang menggunakan oral/auditory dan  visual  secara langsung dan bersama saat berkomunikasi. Kemudian dengan menggunakan medium goresan, misalnya pada batu, kayu, dll. Kemudian menggunakan media cetak yang mudah didistribusikan ke lintas daerah. Kemudian dengan menggunakan alat elektronik:  pengeras suara. Kemudian dengan radio, alat perekam suara, telepon, sehingga pesan dapat ditransmisikan melintas wilayah dengan hampir tak terbatasi jarak dan waktu.
Ketika gambar dan suara dapat direkam bersama dan ditransmisikan (misalnya televisi), manusia seolah kembali ke masa di mana orang berkomunikai dengan oral/auditory dan visual secara langsung dan bersama. Tetapi bedanya, komunikasi sekarang dapat dilakukan lintas ruang dan waktu.

A.  Karakteristik Media Audiovisual
Perkembangan medium audiovisual sekarang ini tidak  lepas dari media perekam visual (kamera foto), atau dengan kata lain medium audiovisual mengadopsi cara kerja mesin fotografi. Teknologi audiovisual merujuk pada audio dan visual. 
Medium film banyak digunakan untuk media audiovisual film bioskup dan iklan/acara televisi. Film dikatakan medium audiovisual yang baik (Jim Stinson-2002):
1.    Peralatan film relatif portable, sehingga lokasi produksi lebih praktis,
2.    Kemampuan untuk memproduksi gambar hitam putih atau warna sangat tinggi,
3.    Gambar dan suara direkam pada jalur yang terpisah dalam film, sehingga memberikan peluang untuk melakukan improvisasi dalam editing lebih leluasa.
Medium televisi sekarang memiliki karakteristik:
1.    Ukuran kamera lebih kecil dan portable,
2.    Fitur kamera (gambar dan suara) semakin lengkap dan terintegrasi, dan memiliki ketajaman gambar dan warga dengan kualitas yang sangat tinggi,
3.    Sistem perekaman telah disempurnakan, sehingga sinyal televisi dapat direkam dan diedit secara elektronik.
Film dan televisi seolah bersaing dalam memproduksi gambar. Namun perbedaan mendasar, film tetap menggunakan medium yang sama (pita seluloid), sedangkan televisi dengan format video. Film dikatakan lebih kaya warna jika dibandingkan dengan video. Video dipandang masih kurang jernih gambarnya dan kasar karena resolusinya rendah. Produksi film mahal dan panjang, sedang video ratusan kali lebih murah dan sederhana. Film sangat sensitif terhadap pencahayaan, maka proses lebih rumit, demikian juga proses perekaman suaranya karena dilakukan pada jalur yang berbeda. Film lebih komplek, utamanya pada color balancing, penambahan efek transisi dan editing.

B.  Era Konvergensi
Teknologi komunikasi terkini membuat penyatuan keunggulan dan menutup kekurangan produksi film dan video. High-definition video (HDV) mampu merekam gambar hampir sama dengan film, sedangkan film mengakomodasi modus perekaman gambar secara elektronik. Proses konvergensi (penyatuan) ini melahirkan medium visual hybrid antara format film dan video. Iklan, direkam dalam format film, lalu ditransfer ke videotape, kemudian ke proses video. Pada film bioskup, special effects dibuat secara elektronik dan kemudian ditrasfer ke film. Pembuatan  special effects sendiri dengan komputer termasuk proses digitalisasi film dengan mentransfer per film frame dan mengkonversi ke pola pixels.
Proses selanjutnya adalah digitalisasi khususnya untuk tata suara pada film dan video. Dalam hal ini diperlukan software dan multiplayer sound tracks.
Konvergensi dan perkembangan teknologi media audiovisual membawa dampak: 
1.      Perluasan ragam produksi program video, pemanfaatan modus distribusi televisi siaran, televisi kabel, televisi satelit, dan internet,
2.      Meluasnya penggunaan video ke berbagai kehidupan, misalnya: kedokteran, pendidikan, industri, penegakan hukum, dsb.,
3.      Munculnya peluang karier di bidang video, 
4.      Media audio, grafis, dan audiovisual telah bertransformasi dengan sinyal digital melalui WiFi, WiMax, atau dengan sistem distribusi nirkabel lainnya. 
5.      Mendorong perubahan dalam sistem produksi media, konsep-konsep dan teori-teori, teknologi dan sistem distribusi, dan sistem ekonomi dan cara menghasilkan keuntungan,
6.      Terjadinya perubahan sistem dan jenis penyimpanan video, audio, dan data (digital), munculnya perkembangan permainan digital (games) melalui internet.
Contoh konkrit: dulunya penjualan lagu melalui pita kaset, CD, sekarang melalui nada dering telepon seluler atau internet. Streaming video melalui internet juga akan ditingkatkan kualitasnya.

Kegiatan Belajar 2: Seni dan Komunikasi Video
Komunikasi yang baik tidak lepas dari seni berkomunikasi. Oleh karena itu, untuk menjadi komunikator, analis, perencana komunikasi, seseorang harus memahami seni berkomunikasi.

A.  Bahasa Audiovisual
Jika seseorang melihat film atau video, seolah-olah orang tersebut mengalami sendiri. Komunikasi video menggunakan bahasa visual, bahasa yang memiliki kaidah seperti tatabahasa tulis. Image dapat diibaratkan sebagai suatu kata, sebuah  shot seperti kalimat lengkap, sedangkan adegan (scene) adalah sebuah alinea, dan sekuen seperti bab. Bahasa visual dalam vodeo mempunyai kekuatan sosial yang sangat penting, karena akan menyampaikan pesan kepada khalayak.
Pada tingkatan dasar, video memiliki tatabahasa yang setara dengan subyek, kata kerja, predikat, atau aturan waktu. Pada tingkatan yang lebih tinggi, video memiliki semacamg kesusasteraannya sendiri, yang merupakan teknik untuk menciptakan cara berekspresi yang spesifik: komposisi dna gerak kamera, kontinuitas gambar, dan pengendalian ritme program video.
Untuk memberikan makna pada konten film diperlukan kombinasi dari: penggunaan perangkat teknik dan penyelarasan dengan suara dan nilai-nilai kultur atau norma dan konvensi yang berkaitan dengan aksi, peristiwa, dan adegan yang ada dalam film tersebut. 
Tiga proses yang menentukan bahasa audiovisual:
1.    Overlapping practices (aktivitas yang saling tumpang tindih). Hal ini terjadi saat pengolahan data digital dengan komputer.
2.    Memudarnya batas-batas konseptual mengenai potensi makna. Hal ini dikarenakan  berubahnya pola distribusi film: penerapan siaran televisi  digital, home cinema, home theater. Ini dapat memunculkan sistem berlangganan, pay-as-you-go, film/video-on-demand,
3.    Munculnya berbagai  hybrid practices  yang baru. Orang tidak sekedar menonton, tapi dengan perangkat yang ada orang tersebut dapat melakukan interaktif, bahkan mengendalikan keadaan.

B.  Memahami Karakter Penonton
Memahami karakter penonton atau spectator adalah penting guna untuk mengetahui selera apa yang disukai, agar karya video mendapatkan apresiasi.
Karakter penonton:

1.    Kemampuan menduga adegan selanjutnya dan ingin membuktikan dugaannya pada adegan berikutnya,
2.    Memiliki kecenderungan menurut terhadap alur cerita atau informasi yang diberikan oleh produser, walau kadang tersembunyi. Jika interpretasi salah, penonton akan menganggap suatu surprise.
3.    Cenderung tertarik pada tokoh yang baik atau memiliki kemampuan hebat (protagonis) kemudian Mengikat diri kepada tokoh yang disukai,
4.    Menghitung alur pemecahan masalah, pemecahan masalah jangan terlalu ringan atau terlalu berat, 
Dalam produksi audiovisual perlu mempertimbangkan/menganalisa aspek distribusi dan demografis.
Dalam konteks pemasaran, aspek estimasi: jumlah khalayak, komposisi demografinya, kebutuhan dan seleranya adalah yang yang sangat mendasar dan penting. 





Download e-book/PDF
 

Sunday, April 21, 2013

Friday, April 19, 2013

Pengayaan Materi / Suplemen S1 Perpustakaan 2013.1



Universitas terbuka merupakan perguruan tinggi jarak jauh dan non tatap muka. Mahasiswa tidak harus belajar di kelas. Proses belajar mahasiswa secara mandiri dengan menggunakan berbagai media, baik cetak maupun noncetak. Produk cetak meliputi modul, sedangkan produk noncetak meliputi audio BMP, video BMP, video interaktif, dry lab, program radio, program televisi dan Program pengayaan berbasis online.

Media pembelajaran dibagi dua kategori yakni offline dan online. Program pengayaan berbasis online merupakan satu kesatuan dengan BMP, akan tetapi tidak semua BMP dilengkapi dengan bahan ajar tambahan.
Berikut Materi Pengayaan mata kuliah FISIP - Ilmu Perpustakaan :

1. Mata Kuliah Pengantar Ilmu Kearsipan ASIP 4151




2. Mata Kuliah Hubungan Masyarakat SKOM 4103

Materi 1



Materi 2

 


Silahkan tekan gambar untuk mendownload file. Semoga bermanfaat.


Sumber

Friday, April 12, 2013

Ringkasan Modul 9 - ASIP4324 Pengelolaan Arsip Vital



 
RINGKASAN MODUL 9

Manual Pengelolaan Arsip Vital

Krihanta. Pengelolaan Arsip Vital. Jakarta: Universitas Terbuka, 2013.

Manual pengelolaan arsip vital merupakan pelengkap dari suatu perencanaan dan pelaksanaan
program arsip vital yang bertujuan untuk memancu para pengelola kearsipan dalam mennangani arsip
vital.

Kegiatan Belajar Manual Pengelolaan Arsip Vital
Manual (panduan) pengelolaan arsip vital merupakan salahsatu alat bantu bagi pelaksana untuk
menjalankan program kearsipan yang disusun Tim dan memperoleh persetujuan pimpinan organisasi
dan dijadikan acuan bagi seluruh pegawai untuk menerapkan dan mengikuti ketentuan sesuai dengan
prosedur. 

A.  Pentingnya Manual Pengelolaan Arsip Vital. Unit kerja yang memiliki arsip vital perlu menyediakan
panduan untuk melaksanakan program arsip vital. Dengan panduan tersebut diharapkan dapat
mengurangi kesahalan dalam mengelola arsip vital, terutama dalam identifikasi dan penetuan arsip
vital, perlindungan, penentuan lokasi, prosedur pemindahan, penggunaan, jadwal retensi,
pemusnahan dan akses informasi arsip vital. Panduan Pengelolaan Arsip Vital juga merupakan
buku saku atau buku pegangan bagi pengelola arsip vital agar terjadi efektivitas dan efisiensi bagi
organisasi.
B.  Informasi Yang Tercantum Dalam Manual. Manual pengelolaan arsip vital harus disusun sesuai
dengan level penggunanya dengan mempertimbangkan: bahasa (teknis, singkat, jelas dan mudah
dipahami), adanya alur kegiatan dan gambar, jumlah dan ketebalan cukup. Manual pengelolaan
arsip vital mencakup informasi:
1.  Penanggungjawab program arsip vital. Penanggungjawab, biasanya kepala Unit Kearsipan,
memiliki kewenangan untuk mengkoordinasikan kegiatan yang terdapat dalam setiap unti
kerja.
2.  Instruksi dan prosedur pengidentifikasian arsip vital. Dalam instruksi ini memuat bagaimana
mendata arsip yang terdapat dalam organisasi sebagai arsip vital.
3.  Metode perlindungan dan penyimpanan lokasi arsip vital. Penjelasan tentang perlindungan dan
kemungkinan ancaman terhadap arsip vital.
4.  Metode peminjaman dan penemuan kembali arsip vital. Arsip vital suatu saat akan dibutuhkan,
oleh karena itu perlu tatacata peminjaman, pembatasan akses informasinya dan temu kembali.
5.  Instruksi dan prosedur pemindahan arsip vital sesuai jadwal retensi arsip vital.  Pemindahan
arsip vital akan mengacu pada retensi arsip vital, sehingga pemindahan sesuai dengan masa
simpan arsip vital.
6.  Instruksi dan prosedur pemusnahan arsip vital. Perlu prosedur dan siapa yang terlibat dalam
kegiatan pemusnahan arsip vital. 
7.  Formulir yang digunakan dalam program arsip vital. Program arsip vital memerlukan formulir-
formulir yang dibuat semudah mungkin disertai contoh-contoh pengisiannya.
8.  Jadwal retensi arsip vital. Jadwal retensi perlu dimuat di bagian akhir manual pengelolaan arsip
vital.
C.  Penanggungjawab Program Arsip Vital
Tugas Pokok Penanggungjawab program arsip vital adalah mengendalikan secara keseluruhan
proses pengelolaan arsip vital dalam suatu organisasi.
D.  Pendistribusian Manual

Manual Pengelolaan Arsip Vital harus didistribusikan, diterima dan dipahami oleh Tim pengelola
arsip vital. Setiap satuan unit kerja harus memegang manual ini, sehingga terhindar dari keslahan
pengelolaan arsip vital.
Download e-book
 

Ringkasan Modul 8 - ASIP4324 Pengelolaan Arsip Vital



 
RINGKASAN MODUL 8 

Metode Perlindungan Arsip Vital

Krihanta. Pengelolaan Arsip Vital. Jakarta: Universitas Terbuka, 2013.

Akhir-akhir ini, penggunaan arsip media non kertas semakin banyak, seiring dengan perkembangan
teknologi informasi. Organisai banyak yang mengalihmediakan arsip vital kertas ke dalam bentuk
media lain atau disebut juga sebagai arsip elektronik.

Kegiatan Belajar Proteksi dan Pelestarian Arsip Vital Elektronik
Program menghadapi bencana yang mengakibatkan kerusakan arsip vital elektronik hendaknya
mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gangguan sistem pengolahan data elektronik, karena
program proteksi arsip vital elektronik memiliki problem khusus sejak awal penceiptaan arsip. Hal ini
adanya ketergantungahn yang sangat tinggi terhadap perangkat lunak dan perangkat keras yang
digunakan. Program proteksi arsip vital elektronik antara lain (Betty R. Ricks, 1992): analisis penerapan
komputer, penciptaan prosedur, pemilihan lokasi komputer, rencana pelaksanaan dan uji coba.

A.  Media Rekam Arsip Elektronik. Berdasarkan media penyimpanan arsip elektronik: (1) Media
Bentuk Khusus (media berbentuk pita kertas berlubang yang dikonversikan atau dikodekan secara
digital, media ini sudah ketinggalan jaman), (2) Media Magnetik: disk magnetik, pita magnetik,
kaset, (3) Media Optik: CD-ROM, Audio-CD, Video-CD, Photo-CD, Erasible Optical Disk, DVD-
ROM.
B.  Proteksi Arsip Elektronik
Arisip elektronik sangat rentan rusak yang diakibatkan aoleh bencana. Metode Proteksinya
1.  Metode Rekam Data, direkam dalam beberapa media.
2.  Microforms sebagai Sumber Cadangan (Buckup Source), berbentuk film dan hanya dapat
dibaca dengan menggunakan micro reader, lebih bisa tahan lama dan mudah untuk
menyimpannya.
3.  Perlindungan Fil-file EDP=Electronic Data Processing, perlu perlindungan dan penempatan
terhadap komputer yang menyimpan arsip vital elektronik.
C.  Pengamanan dan Pelestarian Arsip Vital Elektronik. Perlu ditentukan prosedur dan pembatasan
terhadap akses/penggunaan komputer, sehingga pencurian, mengkopian, perusakan dan
penghancuran arsip vital elektronik dapat dihindari.
D.  Reprografi Arsip Vital Elektronik, merupakan kegiatan penggandaan dan pengulangan sebuah
dokumen yang mencakup 3 proses: copying (memproduksi dengan ukuran sama), duplicating
(cypiying dalam jumlah banyak), microcopying (menggandakan dalam besaran yang lebih kecil).
Microcopying dalam elektronik yaitu menjadikan microforms.
E.  Reproduksi Arsip Audiovisual
Teknologi mampu menghasilkan banyak format audiovisual, termasuk arsip vital audiovisual.
Reproduksi ini akan memperpanjang usia arsip audiovisual. 

 Download e-book
 

Ringkasan Modul 7 - ASIP4324 Pengelolaan Arsip Vital




RINGKASAN MODUL 7 

Metode Perlindungan Arsip Vital

Krihanta. Pengelolaan Arsip Vital. Jakarta: Universitas Terbuka, 2013
.

Perlindungan arsip vital merupakan suatu upaya untuk melindungi dan mengamankan arsip vital 
sekaligus memulihkan arsip vital yang rusak karena bencana, baik isi informasi dan fisiknya. Metode
perlindungan arsip vital terdiri atas: proteksi arsip vital dan pemulihan arsip vital.

Kegiatan Belajar 1: Proteksi Arsip Vital
Upaya perlindungan arsip vital diharapkan dapat mencegah segala resiko kerugian yang lebih luas,
bukan lagi kepentingan unit kerja saja tetapi juga organisasi. Perlindungan arsip vital harus melalui
perencanaan dan perispan sebelum bencana, saat terjadinya bencana dan pemulihan pasca bencana..
Salahsatu kegiatan perencanaan perlindungan arsip vital dengan melakukan proteksi dengan cara
mencegah dan menghindari fisik dan informasi arsip vital  dari ancaman kerusakan maupun
kemusnakan yang disebabkan oleh berbagai faktor kerusakan, terutama bencana. Kegiatan proteksi ini
memerlukan beaya.
A.  Faktor-faktor Yang Memengaruhi Penetapan Metode Perlindungan Arsip Vital. 
1.  Kebutuhan Akses. Kebutuhan akses terhadap arsip vital harus disesuaikan dengan
kepentingan organisasi, karena tidak semua informasi arsip vital terbuka bagi semua orang.
Dengan demikian, arsip penggunaan/akses arsip vital harus dibatasi secara visik sehingga
dapat ditampilkan dalam komputer atau di media yang lain.
2.  Lamanya Masa Simpan. Arsip vital tidak akan disempan selamanya, informasi arsip vital akan
menurun setelah terciptanya informasi arsip yang baru dan ditetapkan sebagai arsip vital.
Informasi yang terkadung dalam arsip vital tersebut akan mempengaruhi masa simpan arsip
vital, sehingga terjadi perbedaan masa simpannya.
3.  Kualitas Fisik Arsip. Arsip vital yang disajikan dan digunakan bentuk aslinya, maka lambat laun
akan menurunkan kualitas fisk arsip vital tersebut. Cara yang paling aman untuk menghindari
kerusakan fisik dengan mengalih mediakan arsip vital atau memberikan kopiannya saja.
B.  Bentuk-bentuk Metode Pelindungan Arsip Vital. Ira A. Penn (1994): metode perlindungan arsip vital
tergantung dari jenis media arsip yang disimpan dengan tiga cara: duplikasi (penggandaan atau
membuat salinan dengan mengkopi atau dengan medea lain), dispersial (pemencaran lokasi
penyimpanan terhadap duplikasi arsip vital: existing dispersal/penyebaran yang terprogramkan,
improvised dispersal/pemencatan akibat kebutuhan atau diluar program, pemindahan/transfer
untuk arsip vital dinamis inaktif dan dilakukan secara periodik, peralatan khusus/dengan
menggunakan sarana khusus agar tahan api/air/benturan, penyimpanan di pusat arsip/record
center) dan peralatan khusus. Betty R. Ricks: duplikasi, built-in dispersial, improvisial, dan vaulting.
C.  Bentuk Perlindungan Arsip Vital lain. Arsip vital perlu dilindungi, misalnya dengan penggunaan
sistem keamanan, membatasi jalan masuk lokasi arsip, membatasi penggunaan, mengoptimalkan
penggunaan pembasmi hewan, mengatur temeratur, menggunakan pembersih udara.
D.  Pengamanan Arsip Vital. Pengamanan di sini dengan sasaran agar organisasi mampu menjamin
kerahasiaan arsip vital, mampu menyediakan arsip dengan cepat, mencegah akses bagi yang tidak
berwenang.
E.  Pemeliharaan Ruang Penyimpanan Arsip Vital. Ruang penyimpanan arsip harus mampu
mencegah kerusahan arsip dengan berbagai jenisnya.

Kegiatan Belajar 2: Pemulihan Arsip Vital

A.  Rencana Pencegahan dan Pemulihan Bencana
Sasaran pencegahan dan pemulihan bencana adalah (Sulistyo Basuki, 2003:449):
2

1.  Adanya metode yang efektif dan efisien
2.  Adanya koordinasi dalam pemulihan arsip pasca bencana
3.  Meminimalkan ganggunan terhadap kegiatan rutin
4.  Membatasi meluasnya kerusakan dan mencegah terjadinya bencana yang lebih luas
5.  Menyusun aoperasi alternatif
6.  Menyediakan jasa dan operasi pemulihan
7.  Mencegah luka terhadap personil yang melakukan pemulihan
8.  Mecegah kerusahan harta dan aset organisasi
9.  Meminimalisir dampak ekonomi
10. Menjamin kelangsungan organisasi akibat bencana

B.  Tim Penganggunalangan Bencana
Perlu dibentuk  Tim Penanggunalangan Bencana dalam rangka pemulihan dan penyelamatan arsip
vital: Tim Administrasi, Tim Penunjang, Tim Pelaksana, Tim Pengamanan.

C.  Bentuk-bentuk Metode Pemulihan Arsip Vital
1.  Vacuum Freeze Drying, proses yang dilalui bahan-bahan arsip (kertas) untuk dibekukan (dalam
ruang hampa) dan dikeringkan dalam ruang yang bersuhu tinggi.
2.  Vacuum Drying, proses pengeringan arsip kertas basah yang tidak ditempatkan dalam suatu
ruangan.
3.  Freezing, proses pembekuan arsip kertas di bawah titik beku untuk mematikan jamur.
4.  Air Drying, proses pengeringan dengan udara. Proses ini dengan menjaga suhu dan kelembaban
udara.

D.  Pemulihan Arsip Akibat Bencana Kebakaran
Kebakaran berpotensi memusnahkan arsip, apalagi arsip kertas. Tindakan awal mencegah kebakaran
agar tidak meluas yaitu dengan air. Penanganan pemulihan arsip yang terbakar:
1.  Menggunakan alat yang digerakkan manual
2.  Menggunakan forklift berdaya gas
3.  Tidak menggunakan alat pemanas, mesin fotokopi, baterai, sumber api
4.  Tidak menggunakan bahan kimia, minyak, cat
5.  Tidak merokok
6.  Membatasi ruang penyimpanan arsip dari sumber cahaya 
Download e-book
 

Ringkasan Modul 6 - ASIP4324 Pengelolaan Arsip Vital




RINGKASAN MODUL 6

Program Arsip Vital

Krihanta. Pengelolaan Arsip Vital. Jakarta: Universitas Terbuka, 2013.


Program arsip vital merupakan suatu metode yang dilakukan secara sistematis untuk menyeleksi,
melindungi dan menemukan kembali arsip dengan mudah, tidak saja dalam keadaan situasi normal,
tetapi juga dalam situasi darurat setelah terjadinya bencana yang mengakibatkan kerusakan arsip.
Kegiatan Belajar 1: Rancangan Program Arsip Vital
Setiap kegiatan perlu diawali dengan rancangan yang memerlukan keterampilan dan keahlian
sehingga tujuan kegiatan tercapai. Rancangan merupakan dokumen tertulis yang di dalamnya memuat
program kerja yang meliputi kebijaksanaan, penganggaran dan pelaksanaan kegiatan dengan
memperhitungkan faktor ruang,w aktu dan urutan kegiatan secara teratur dan tegas.
A. Rancangan Program Arsip Vital, merupakan kegiatan pengelolaan arsip vital pada tahap awal
untuk memperoleh dukungan dan persetujuan dari pimpinan organisasi.
1. Dukungan dan Persetujuan Top Manajemen. Dengan meyakinkan akan manfaat dan
kegunaan program arsip vital, maka diharapkan pimpinan akan memberikan/menyediakan
anggaran kegiatan. Dukungan pimpinan juga dimaksudkan agar kegiatan identifikasi arsip
yang tersebar di semua unit kerja dapat mudah dilakukan.
2. Penunjukan Personal. Setiap satuan kerja harus terwakili oleh seorang yang
bertanggungjawab terhadap terlaksananya program arsip vital. Orang ini dipilih karena
memahami dan menguasai fungsi organisasi, pentingnya arsip vital dan menentukan jenis
arsip vital.
3. Penentuan Arsip Vital. Jenis arsip vital harus diketahui, agar program arsip vital jelas arahnya.
4. Penentuan Lokasi Penyimpanan. Hal yang tidak boleh diabaikan dalam prancangan program
arsip vital adalah penentuan lokasi penyimpanan arsip vital, apakah: di lingkungan organisasi
(onside), di luar lingkungan organisasi (offside), atau memanfaatkan jasa penyimpanan
komersial (misalnya: bank). Perlu juga mempersiakan lokasi dan metode penyimpanan dengan
mempertimbangkan faktor keamanan, ancaman dan kehilangan.
5. Penentuan Metode Penyimpanan. Penyimpanan arsip harus mempertimbangkan faktor
keamanan, termasuk ancaman dari manusia dan bencana, maka diperlukan identifikasi jenis
potensi bahaya dan survei lokasi.
B. Pelaksanaan Survei Arsip Vital. Pendataan/inventarisasi dan survei terhadap seluruh arsip perlu
dilakukan. Menurut Betty R. Ricks, dengan kegiatan survei akan diketahui tentang jumlah, tipe,
fungsi, pengorganisasian arsip, lokasi penyimpanan, kriteria arsip (aktif, inaktif), vital dan tidaknya
arsip.
C. Evaluasi Program Arsip Vital. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas program arsip
vital, yang menyangkut evaluasi terhadap personel, peralatan survei, waktu pelaksanaan, tidak
akomodatifnya perlakuan dari setiap satuan kerja dan masalah-masalah lain yang dijumpai dalam
pelaksanaan program. Evaluasi juga mencakup jadwal retensi arsip vital, jenis arsip vital dan
berapa lama arsip disimpan.
Kegiatan Belajar 2: Jadwal Retensi Arsip Vital
Jadwal retensi arsip vital merupakan program yang memuat jadwal dan prisedur penyimpanan arsip
vital yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan.
A. Tujuan Retensi Arsip Vital, bertujuan untuk memenuhi keperluan organisasi dan persyaratan
perundang-undangan.
PDF Creator - PDF4Free v3.0                                                    http://www.pdf4free.com2
1. Mengurangi Biaya Pengelolaan Arsip Vital. Pengelolaan arsip vital memerlukan perlakuan
secara khusus dan membutuhkan peralatan yang berbeda jika dibandingkan dengan arsip
yang lain.
2. Efektivitas Tersedianya Arsip Vital. Program retensi arsip vital yang lain yaitu efektivitas dalam
penyediaan arsip vital, artinya bahwa, arsip vital mudah dan cepat ditemukan kembali ketiga
organisasi membutuhkannya. Bila penyimpanan tidak disertai keterangan lokasi, berapa lama
disimpan dan backup arsip vital, maka akan menghambat temu kembali.
B. Penyusunan Retensi Arsip Vital, merupakan kgiatan untuk menentukan masa simpan arsip vital
dan nasib akhirnya. Oleh karena itu perlu dilakukan survei terhadap arsip-arsip yang disimpan di
semua unit kerja guna membantu mengidentifikasi arsip vital juga untuk mempermudah bagi
organisasi untuk menetapkan lokasi penyimpanan, masa simpan dan jadwal retensi arsip vital.
C. Transfer Penyimpanan Arsip Vital, merupakan perencanaan perlindungan terhadap arsip vital
yang memerlukan prosedur pemindahan (transfer), dari yang semula tersimpan di central fle ke
record center dan/atau selanjutnya akan dimusnahkan dalam jangka waktu tertentu. Betty Ricks
mengatakan bahwa, transfer dan prosedur memindahan mencakup tiga hal:
1. Daftar Induk Arsip Vital. Dengan Daftar Induk Arsip Vital memberikan wewenang bagi setiap
unit kerja dalam menyusun prosedur perlindungan arsip vital.
2. Transfer Arsip Vital. Arsip vital yang telah teridentifikasi perlu dipindahkan atau ditransfer ke
tempat penyimpanan arsip vita. Prosedur transfer dan perlindungan arsip vital harus dibuat
dan disosiaolisasikan ke setiap unt kerja.
3. Prosedur Penanganan Arsip. Prosedur penanganan arsip vital harus disiapkan, baik dalam
keadaan normal, bahaya dan setelah keadaan bahaya.
Download e-book